Jumat, 27 Juli 2012

SEMINAR ATAU KONFERENSI: BUKAN JALAN-JALAN BIASA


Rasa lega dan puas memenuhi pikiran dan hati saya saat panitia 2011 International Conference on Creativity and Innovation for Sustainable Development di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) mengirimkan pemberitahuan kepada saya bahwa paper saya diterima, seperti terungkap di bawah ini.
“Dear Participant, Thank you for submitting your full paper to be presented at the forthcoming Conference for the conference 2011 International Conference on Creativity and Innovation for Sustainable Development to be held in the International Islamic University, September 12-14th 2011.” 
Judul paper saya adalah Islamization and Integration of Knowledge: Indonesian Experience: A case study of Syarif Hidayatullah  State Islamic University. Penelitian ini saya lakukan selama tiga bulan (April-Juni) dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Paper setebal 22 halaman ini dibagi menjadi beberapa subbab, yaitu pendahulun, UIN dalam perspektif sejarah, konsep integrasi ilmu pengetahuan, keunikan model integrasi ilmu pengetahuan di UIN dan implikasinya dalam kurikulum, kendala dan solusinya, serta kesimpulan.
Sebelum ini, tepatnya tanggal 30-31 Juli 2011,   saya juga telah mempresentasikan paper saya dengan judul The Role of Higher Institution in Harmonizing the Religion and Sciences: Indonesian Experiences A Case Study at Syarif Hidayatulah State Islamic University Jakarta, dalam seminar internasional di University of Nagoya Jepang. Alhamdulillah,  untuk acara ini saya mendapat bantuan dana dari UIN Jakarta sebesar Rp. 4.900.000 dari dana yang dibutuhkan sebesar Rp. 11.500.000 (tiket Garuda Jakarta-Narita RP. 8 juta, Visa Rp, 300.000, transportasi dari Narita ke Nagoya Rp. 2.500.000, hotel transit  (satu malam) menunggu kepulangan Rp. 500.000 dan taksi di Jakarta Rp. 200.000). Dalam seminar di Jepang ini, sebagai pemakalah saya tidak dimintai membayar kontribusi keikutsertaan.
Berbeda dengan seminar di Jepang, untuk mengikuti konferensi di IIUM tersebut, sebagai pemakalah dikenai biaya 300 USD (Rp. 2.580.000) untuk iuran keikutsertaan (participation fee), tiket pulang pergi Jakarta-Kuala Lumpur (Rp. 1.000.000 dengan Lion Air), dan penginapan selama empat malam RM 200 (Rp. 600.000), ditambah transport lokal dan airport tax kurang lebih Rp. 500.000. Jadi total biaya untuk ikut konferensi tersebut adalah Rp. 4.680.000. Biaya partisipasi sudah saya bayar dengan uang pribadi tanggal 28 Juni 2011 karena akhir pembayaran adalah tanggal 30 Juni 2011. Sedangkan tiket saya beli pada awal Juli sehingga mendapat harga relative murah.
Biaya tersebut, menurut hemat saya, tidak sedikit untuk ukuran dosen di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Tetapi untuk ukuran sebuah institusi pendidikan tinggi seperti UIN Jakarta, biaya tersebut sangat kecil dibanding manfaat yang didapat.
Mengingat Fakultas Psikologi tidak memiliki dana untuk perjalanan ke luar negeri tahun 2011 ini, maka saya berinisiatif untuk mengajukan bantuan dana ke Rektorat melalui Pembantu Rektor Bidang Admnistrasi Umum dan Pembantu Rektor Bidang Kerjasama Kelembagaan.  Surat saya kirimkan tanggal 27 Juli 2011 dengan melampirkan abstrak paper, surat penerimaan paper dari panitia konferensi di IIUM, dan jumlah biaya yang dibutuhkan.
Sampai tanggal 8 September 2011, saat halal bi halal UIN Jakarta, saya belum mendapat informasi apakah permohonan saya diterima atau ditolak. Karena waktu keberangkatan sudah dekat, maka seusai halal bi halal saya mengecek ke bagian keuangan universitas. “Belum ada disposisi dari Pak Amsal”. Demikian jawaban singkat yang diberikan oleh bagian keuangan.
Dengan alasan tersebut dan mengingat semakin dekatnya hari keberangkatan saya ke Malaysia (11 September 2011, Ahad,jam 9 dengan Lion Air), saya memberanikan diri kirim pesan singkat (SMS) ke Pembantu Rektor II dan Pembantu Rektor IV.
“Mohon maaf Pak Amsal dan Pak Jamhari. Pada tanggal 27 Juli 2011 saya mengajukan permohonan bantuan dana untuk presentasi paper dan mengikuti konferensi internasional di IIUM. Saya sudah mengecek ke bagian keuangan dan dijawab belum ada disposisi dari Bapak. Mohon konfirmasi apakah permohonan saya diterima atau tidak. Karena tidak ada dana dari fakultas, saya perlu mengusahakan dari tempat lain”. Demikian isi pesan singkat saya.
Dalam waktu  tidak lama saya mendapat jawaban dari Purek IV.
“Sudah saya disposisikan ke Pak Amsal”. 
“Terimakasih pak Jamhari” jawab saya singkat seraya berharap permohonan saya dikabulkan apalagi hari ini baru jabat tangan dalam halal bi halal dengan pimpinan UIN, mulai dari Rektor, Pembantu Rektor sampai kepada staf.

Jawaban Pak Jamhari tersebut membuat saya semakin semangat dan girang. Meskipun saya tidak tahu apa isi disposisi dari Pak Jamhari.  Pak Amsal sebagai  pemegang komando juga belum menjawab pertanyaan saya. Saat itu saya masih optimis permohonan diterima walaupun hanya sebagian saja, sekedar untuk menutup biaya partisipasi atau tiket.

Sekitar pukul 16.05 sore,  Kamis  (8/9/11), tiba-tiba ada SMS masuk ke handphone saya. Dari pengirimnya tertulis Amsal Bakhtiar. Alhamdulillah akhirnya dapat jawaban juga. Demikian gumamku dalam hati sebelum membuka SMS tersebut.

Namun kegembiraan saya mulai berubah ketika pesan saya buka, ternyata isinya adalah “Diprioritaskan yang lain Pak karena Pak Bambang sudah dua kali ke luar negeri”. Artinya permohonan saya ditolak.

Sejenak saya berpikir  bagaimana menjawab SMS ini. Di satu sisi akal sehatku berontak dan protes.  Tapi di sisi lain  saya bingung bagaimana mengungkapkannya kepada Pak Amsal yang nota bene senior saya ketika di Gontor dulu. Pada saat yang bersamaan, tangan saya dengan dipandu hati kecilku menulis “Nasykurukum syukran jazilan Ustadh ala ihtimamikum”. Artinya Terimakasih banyak Ustadh atas perhatiannya.  Saat itu juga langsung dibalas oleh Pak Amsal “Sama-sama”.

Usai shalat maghrib, pikiran saya masih belum tenang meskipun tiket pesawat sudah di tangan.Timbul berbagai pertanyaan sebagai berikut.
1.      Kenapa pimpinan UIN tidak mengapresiasi hasil karya ilmiah seorang dosen yang akan dipaparkan dalam konferensi internasional dengan alasan prioritas untuk yang lain? Apakah mereka tidak tahu konferensi atau seminar seperti ini tidak sama dengan jalan-jalan biasa (plesir)?
2.      Berapa orang sih yang mendapat kesempatan untuk memaparkan hasil penelitiannya dalam kancah Internasional sehingga harus ada prioritas segala?
3.      Berapa sebenarnya dana yang tersedia di universitas untuk kegiatan ilmiah seperti ini? Mengapa tidak seorang dosen pun –termasuk saya-- yang tahu alokasi dana ini?
4.      Presentasi paper dalam konferensi internasional seperti ini bukan jalan-jalan biasa, tetapi ini perjalanan intelektual (intellectual journey) tetapi mengapa tidak didukung? Sementara pada awal Juli 2011 yang lalu, universitas bisa memberangkatkan puluhan orang (mulai dari Kepala Biro, Kepala Pusat, Darmawanita, sampai Kasubbag), ke Jepang dengan tujuan melakukan monitoring perkembangan akademik dosen FKIK yang sedang kuliah di sana? Apa hasil kunjungan tersebut? Jawabannya Mana getehe kata orang Betawi.  Saya yakin, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan dinas atau lebih tepatnya disebut ‘jalan-jalan biasa” tersebut.

Untuk mengurangi  rasa kecewa dan gundah  di hati, saya menyampaikan (curhat) kepada seorang teman dekat yang  ikut rombongan UIN jalan-jalan ke Jepang. Maaf sengaja tidak saya sebutkan namanya.  Teman saya tersebut memberi penjelasan sebagai berikut. 

“Ini karena sistem yang ada tidak jelas, dan seharusnya di pusat  sudah dianggarkan untuk kegiatan seperti ini” seraya menambahkan jika saya pemegang kebijakan  pasti saya bantu karena nilainya juga signifikan dan jelas peruntukannya, meskipun tidak menutup untuk seluruh biaya yang diperlukan.

Kondisi di atas mengingatkan saya kepada ungkapan seorang Dekan di sebuah fakultas di UIN ketika mengomentari perilaku para pejabat di negara Indonesia. They are serving themselves NOT serving the people”.

Menurut saya ada benarnya juga ungkapan tersebut jika dihubungkan dengan para pejabat di UIN. Biaya tiket Jakarta-Kuala Lumpur (Rp. 1.000.000) masih lebih sedikit dibandingkan  biaya bahan bakar dan tol untuk mobil dinas seorang pimpinan UIN dalam satu bulan. Apalagi saya tidak pernah terpikir untuk mencari keuntungan materi  dari kegiatan konferensi ini.

Seandainya saya pada posisi yang membuat kebijakan, maka kalaupun tidak disetujui semua biaya, akan saya berikan bantuan meskipun  nominalnya  terbatas.  Ya sekedar cukup untuk naik taksi ke bandara atau sekedar untuk bayar air port tax. Sebab presentasi paper dalam  forum ilmiah internasional bukan jalan-jalan biasa.

Jika permohonan itu disetujui, meskipun sedikit saja, bagi saya yang mengajukan bantuan dana, sudah sangat bersyukur sekali. Karena ada apresiasi terhadap  karya ilmiah yang sudah saya lakukan.

Akhirnya saya jadi ingat tulisan rektor UIN di Kompas pada bulan Ramadhan yang lalu, seorang pemimpin itu hendaknya mampu mendengarkan apa yang tidak terucap oleh rakyatnya, merasakan apa yang tidak tersurat dan membaca apa yang tidak tertulis. Itulah pemimpin yang selalu berada di hati rakyat.

Semoga pada masa mendatang  terjadi perubahan yang lebih baik dalam pengelolaan manajemen keuangan di lembaga tercinta ini untuk kepentingan seminar, konferensi atau forum ilmiah lainnya. Karena seminar, konferensi dan forum ilmiah tidak sama dengan jalan-jalan biasa. Semoga. Amin. 

Ciputat, 10 September 2011

Bambang S

3 komentar:

  1. Hal ini seperti yang umumnya dialami para mahasiswa Pak :(

    BalasHapus
  2. Tetap semangat untuk berkarya pak

    BalasHapus
  3. terima kasih atas ceritanya pak. Itu hal yang sering terjadi. Kurangnya fee dalam konferensi. Semoga bapak terus berkarya. Salam kenal.
    #khoirus mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

    BalasHapus