Jumat, 06 April 2012

SILATNAS CIREBON SUKSES: Ukhuwah Alumni Gontor Tidak Tertandingi

Sukses, tertib, lancar, dan terorganisir (STLT), itulah kesan dan ucapan yang tepat untuk menggambarkan pelaksanaan Silaturahim Nasional Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor di Cirebon pada tanggal 23 sampai 25 Maret 2012. Ada beberapa indikator penting untuk membuktikan acara ini sukses dan berhasil.

Pertama, dari segi kehadiran peserta silatnas. Acara ini telah berhasil menyatukan empat jenis unsur peserta, yaitu unsur Keraton Kasepuhan Cirebon, Pimpinan Pondok Modern Gontor, pejabat pemerintah, serta alumni Gontor di dalam dan luar negeri.

Pihak Keraton Kasepuhan diwakili oleh Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat. Menurut Sultan, silatnas ini merupakan jembatan berkumpulnya satu keluarga, dimana keluarga muda (baca alumni Gontor) menengok keluarga tua. “Silatnas ini bukan suatu kebutuhan tetapi suratan taqdir dari Allah yang menuntun alumni Gontor untuk menengok asal usul pendiri Pondok”, ungkap Sultan seraya memberikan gelar Raden kepada K.H. Abdullah Syukri dan K.H Hasan Abdullah Sahal.

Lebih lanjut, Sultan mengingatkan pesan dan wasiat Syarif Hidayatullah kepada generasi penerusnya. Wasiat dan pesan tersebut adalah “Insun titip tajug dan fakir miskin” yang astinya “saya titip masjid/mushalla dan fakir miskin”. Sebuah pesan yang sarat dengan makna integralitas, religi, dan sosial.

Dari jajaran Pimpinan Pondok Modern Gontor yang turut hadir adalah K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, K.H. Hasan Abdullah Sahal, keduanya sebagai Pimpinan Pondok Modern Gontor, K.H. Akrim Maryat Ketua PP IKPM, K.H. Masyhudi Shobari Direktur KMI, K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, H. Suyoto Arif, H. Nur Syahid, dan beberapa keluarga Pondok Gontor.

Sementara dari unsur pejabat pemerintah yang hadir dalam acara ini adalah Surya Dharma Ali Menteri Agama, Nur Syam Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Dede Rosyada Direktur Pendidikan Islam, Dedi Jubaidi Direktur Madrasah yang nota bene alumni Gontor, Direktur Pesantren Ace Saifuddin, Syairozi Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Barat dan beberapa pejabat di wilayah Cirebon.

Sedangkan dari unsur alumni, menurut laporan ketua panitia, Tata Taufik, ada 1.500 alumni yang hadir, termasuk perwakilan IKPM luar negeri, yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Karena itu Menteri Agama menyebutnya sebagai silaturahim internasional bukan Silatnas, sebab pesertanya tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri.

Dari ketiga unsur tersebut, dapat dikatakan melalui ajang silatnas ini, telah menyatu antara umara, ulama, dan rakyat. Sebuah pertemuan yang memadukan keharmonisan, kedamaian, kekeluargaan, kebersamaan, dan keakraban.

Indikator kedua, dari segi pendanaan. Penyelenggaraan acara silatnas ini murni didanai oleh alumni Gontor. “Acara ini murni didanai alumni Gontor. Panitia tidak mengajukan proposal kepada Kementerian atau Lembaga Pemerintah”, ungkap Tata Taufik dalam sambutannya. Hal ini, tambah Tata, menunjukkan rasa solidaritas, ukhuwah, kemandirian dan kemampuan para alumni. Diantara alumni yang memberikan sponsor, tambah Tata Taufik, adalah Global Infiniti penyelenggara umrah dan haji mandiri sejahtera, Mutiara, Fannani Center, Barokah Jenang Kudus.

Ketiga, dari segi waktu penyelenggaraan. Acara ini didesain selama tiga hari, mulai hari Jumat sampai Ahad. Memanfaatkan libur nasional Hari Nyepi yang jatuh pada hari Jumat disambung dengan Sabtu dan Ahad sehingga banyak alumni yang bisa hadir. Dengan waktu tiga hari, para alumni memiliki kesempatan yang cukup untuk saling bernostalgia, melepas kangen, dan bertukar informasi atau pengalaman.

Suasana seperti ini tentunya berbeda dengan penyelenggaraan silatnas di Jakarta Convention Center (JCC) pada tahun 2010 yang lalu. Acara diselenggarakan hanya satu hari, dari pagi sampai sore. Sehingga para alumni yang datang dari jauh tidak memiliki cukup waktu untuk melepas kangen dan bernostalgia sesama rekan alumni. Apalagi susunan acaranya sangat padat. Akibatnya, saat menteri hadir, para alumni lebih memilih berada di luar ruangan daripada mendengarkan ceramah seorang menteri.

Keempat, aspek nilai ekonomi dan pengenalan potensi lokal. Nilai ekonomi ini terlihat dari stand pameran dan souvenir yang dikelola penitia. Ada stand produk alumni, stand makanan lokal seperti nasi jamblang, empal genthong, tape ketan hitam Cirebon, serta stand souvenir lainnya.

Kelima, aspek rangkaian acara kegiatan. Kegiatan silatnas kali ini, bisa dikatakan three in one. Yaitu gabungan antara keilmuan, kekeluargaan, dan seremonial. Kegiatan keilmuan diwujudkan dalam bentuk seminar sehari dengan tiga tema sekaligus. Ketiga tema tersebut adalah “Kiprah pesantren dan madrasah dalam membangun karakter bangsa”; “Optimalisasi peran dan jaringan IKPM untuk mensejahterakan ummat”; dan “ Kiprah politik santri pasca informasi”. Nara sumbernya juga dari para alumni sendiri. Diantaranya adalah Lukman Saifuddin Zuhri Wakil Ketua MPR-RI, Amsal Bakhtiar Pembantu Rektor II UIN Jakarta, Usman Syihab Pembantu Dekan I Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta. Selain itu juga ada acara hiburan wayang kulit bagi masyarakat umum dan khitanan massal.

Kekeluargaan diwujudkan dalam bentuk tajammu’, nostalgia, temu kangen, tukar informasi dan pengalaman para alumni lintas marhalah. Mulai dari mereka yang tamat tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Semuanya tergabung dalam satu wadah, IKPM Gontor. Tidak ada lagi atribut dan sekat antar angkatan.

“Saya sejak Jumat malam tidur di atas jam 02.00 dini hari karena asyik tajammu’ bersama alumni”, ungkap Amin Nurdin Ketua IKPM Jakarta yang turut hadir dalam acara silatnas ini.

Untuk acara seremonial, panitia penyelenggara mengemasnya dalam bentuk silaturahim di Keraton Kasepuhan Cirebon yang dihadiri oleh empat unsur utama, yaitu keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon, Pimpinan Pondok Modern Gontor, Menteri Agama dan jajarannya, serta para alumni Gontor.

Semua acara tersebut terkoordinir dan baik. “Acara ini tertata, terkoordinir, dan terorganisir dengan baik sesuai dengan nama Ketua Panitia Tata Taufik”, ungkap Akrim Maryat yang langsung sisambut dengan tawa oleh hadirin.

Keenam, lokasi silatnas di Cirebon. Kota Cirebon sangat strategis karena mudah dijangkau dari berbagai penjuru dengan banyak pilihan mode transportasi. Yang lebih penting lagi, kesediaan pihak Kerator Kasepuhan Cirebon untuk menjadi tuan rumah merupakan upaya konkrit untuk menghubungkan kembali tali persaudaraan antara alumni Gontor dan asal usul pendiri.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Gontor bisa menanamkan rasa ukhuwah dan solidaritas yang solid dan kuat di kalangan alumninya? Padahal mereka memiliki kultur budaya, bahasa, profesi, dan bahasa yang berbeda-beda. Menurut Kyai Abdullah Syukri, di Gontor ada nilai, sistem, materi, dan kultur. Keempat dimensi ini menyatu dalam sebuah proses pendidikan di dalam kelas dan di luar kelas. Sehingga pengertian pendidikan di Gontor mencakup apa yang dilihat, dirasa, dan dialami oleh santri.

Sejauh yang penulis rasakan, tidak ada lembaga pendidikan di Indonesia yang bisa menanamkan rasa ukhuwah di kalangan alumni seperti yang terjadi di Gontor. Karena itu, ketika diminta memperkenalkan diri dalam forum atau acara, para alumni Gontor selalu menyebut almamaternya. “Saya alumni Gontor tahun sekian kemudian melanjutnya ke…..”, demikian biasanya mereka memperkenalkan diri. Kata GONTOR itulah sebenarnya yang menyatukan dan mempererat hubungan antar alumni.

Ibarat rukun iman, maka lengkap lah sudah gambaran kesuksesan penyelenggaraan silatnas IKPM di Cirebon. Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih, selamat dan sukses, bravo, tahniah, mabruk, dan congratulation. Semoga apa yang dilakukan panitia Silatnas, baik panitia di Gontor, Jakarta, Cirebon, dan tempat lainnya, menjadi amal kebajikan dan mendapat pahala yang berlipat di sisi Allah. Amin.

(Bambang–Alumni 88).

KEBOHONGAN AKTIVASI OTAK TENGAH

Ada unsur pembohongan dalam pelatihan aktivasi otak tengah yang sempat booming dua tahun yang lalu (2010-2011). Namun tidak banyak peserta yang tahu karena memang sepertinya disengaja oleh pihak penyelenggara untuk ditutup-tutupi. Kebohongan itu adalah penggunaan metode hipnotis dalam aktivasi otak kanan. Karena itu jika ada anak yang bisa membaca dalam keadaan mata tertutup setelah mengikuti pelatihan, itu disebabkan factor hipnotis tadi.

Demikian kesimpulan yang bisa saya catat setelah diskusi dengan seorang mantan trainer di Anak Genius Indonesia (AGI), salah satu penyelenggara bisnis aktivasi otak tengah.

“Mereka bisa membaca dengan mata tertutup itu paling lama satu minggu setelah pelatihan. Setelah itu ya kembali seperti biasa lagi”, ungkap mantan trainer tersebut yang meminta namanya untuk tidak disebutkan.

Di Indonesia ada beberapa lembaga yang menyelenggarakan aktivasi otak tengah. Salah satunya adalah GMC yang dipelopori oleh David Think dari Malaysia. Ada lagi Brain Child Learning. AGI saat ini sudah memiliki 32 cabang di seluruh Indonesia.

Sistem pemasaran mereka menggunakan sistem franchise. Target pelatihan adalah anak usia 4-16 tahun. Selama pelatihan yang didesain dua hari, trainer berusaha menghilangkan mental block melalui games, icebreaking, dan pembekalan lainnya.

“Rentetan kegiatan ini tujuannya untuk mengaktifkan otak tengah yang berada di atas talumus sehingga bisa mempertajam panca indera”, ungkap sumber tersebut.

Di sela-sela itu, tambahnya, ada trainer senior yang melakukan hipnotis kepada peserta. Ini yang tidak diketahui oleh khalayak umum dan sengaja ditutup-tutupi oleh pihak penyelenggara.

Namun lambat laun terbuka juga biang kerok tersebut. Banyak pihak peserta yang menuntut dan meminta kembali uang yang telah mereka bayarkan karena merasa dibohongi. Karena itu, pelatihan aktivasi otak kanan sekarang sudah tenggelam seiring dengan perjalanan waktu. Hanya AGI yang masih berjalan, itupun dikemas dalam bentuk tes kepribadian (personality) dan motivasi lainnya.

Kamis, 05 April 2012

EMAIL DIBAJAK, MEREPOTKAN SEMUA PIHAK

Hari Kamis (5 Maret 2012), pukul 14.56, saya terima email dari Prof Gunawan Indrayanto, anggota BSNP yang nota bene guru besar farmasi UNAIR. “Email Yahoo-nya dibajak ya? Tulis email aja ke yahoo lapor”, tulis Prof Gunawan melalui SMS.

Dua menit kemudian, SMS dari Pak Jamhari masuk. “Mas, email sampeyan di-hack. Dikirim kemana-mana minta bantuan. Mohon dilihat emailnya”, pesan Wakil Rektor Bidang Kelembagaan UIN Jakarta tersebut.

Jam 15.03, Pak Mujib Ketua PLP Fakultas Psikologi mengingatkan saya. “Pak Bambang, kok ada email help seperti itu ke saya. Kenapa?”. Pada waktu yang sama, Ibu Eva dosen fakultas psikologi juga mengirim sms yang serupa. “Pak Bambang, saya mendapat email dari email bapak. Meminta bantuan keuangan. Nampak email terhack sehingga dipakai untuk penipuan. Mohon dicek pak, apakah teman-teman lain juga mendapat email serupa”, tulis bu Eva.

Pak Ahmadi, staf rektorat setelah menerima email langsung menanyakan posisi saya. “Salam Mas Bambang, lagi dimana? Emailnya bocor dipakai orang.Hehehe”, tulis pak Ahmadi yang sudah paham betul mode-mode penipuan di dunia maya.

Dari Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud, Ibu Lilis konfirmasi ke Pak Miftah karena menerima email yang sama. “Saya baru terima email yang ngaku-ngaku Bapak. Katanya bapak sekarang sedang di London dan dirampok, sehingga minta dikirim sejumlah uang yang cukup besar secepatnya. Tapi saya cek ke Pak Miftah ternyata bapak ada di fakultas. Syukur Alhamdulillah”, tulis pengurus HEPI tersebut.

Sementara, Aningeti alumni Fakultas psikologi juga mengadu ke saya. “Maaf Pak, bapak kirim email ke saya ya? Kok isi emailnya minta ditransfer uang pak. Emang bener pak? Saya takut aja itu penipuan yang ngatas namakan bapak, lagi pula saya tidak punya uang sebanyak itui pak, heheheheheh…J” tulis alumni tersebut.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Psikologi, M Avicenna, juga mengingatkan saya. “Ada email dari bapak yang isinya minta bantuan uang ke email saya. Kayaknya email bapak dibajak. Mohon hati-hati email ini bisa jadi dikirim ke teman-teman yang lain”.

Saya belum sempat menjawab sms Pak Avis, tiba-tiba sms dari Ibu Mulia Sari Sekretaris PLP, masuk. “Pak, saya dapat email dari Bapak bahwa bapak kemalangan di Londok dan minta transfer. Sepertinya email bapak di-hack”, tulis bu Mulia.

Ibu Risa, dosen psikologi yang juga praktik di sebuah rumah sakit terkemuka konfirmasi ke saya. “Pak Bambang, email ‘bangs1970@yahoo.com’ nya ada yang bajak. Saya terima berita dari email tersebut bahwa pak Bambang sedang di London dan kecurian. Tolong dicek saja Pak Email tersebut”.

Teman saya di ITB, Pak Eko arsitek, tahu kebohongan dari email tersebut mengirim sms ke saya, “Mas, email Anda dibajak,tetapi terlalu ketahuan bohongnya”. Wah, saya sendiri belum baca email yang dikirim tersebut.

Tiba-tiba, ibu Ning, dari sekretriat BSNP mengirim isi email tersebut via sms. Berikut ini email yang dikirim pembajak.

Hello? Hope you are doing? Hope you get this email on time, I am away in London on an business trip at the moment, unfortunately for me I was robbed at the hotel, my mobile phone and all the cash I had was stolen. Luckily for me I still have my passport with me I left in my hotel room before the incident.

I have been to the Embassy and the Police here but they’re not helping issues at all.

At the moment I am stranded, I can’t pay my bills, Could you please send me £3000 (GB) British Pounds which is about 4,730.51 USD to enable me pay my bills and fly back home.

As soon as I get back I would refund it immediately. Please all need you to do is to go to any Western Union Outlet and send me the money before the bank here closes. Below are my details for the Western Union transfer or Money Gram Transfer.

Name : BAMBANG SURYADI

Address/location: 60 Hyde Park Gate-Kensington London sw7 5bb UK.

As soon as its sent, just write out the money transfer control number (MTCN) and do email it to me. Right now I just have access to only email.

Would be waiting?

Best regards.

Bambang

Melihat gaya bahasa yang dipakai, ya jelas banget penipuannya. Semua orang tahu, itu gaya bahasa native speaker. Artinya, bahasa Inggris saya tidak sebaik itu.

Sebenarnya masih banyak lagi sms yang masuk dengan tujuan mengingatkan saya, tapi tidak saya tulis di sini, termasuk dari Pak Yusuf Rahman Asiten Direktur Sekolah Pascasarjana UIN. Perkiraan saya masih banyak lagi mereka yang menerima email, tetapi tidak menghubungi saya.

Karena SMS masuk bertubi-tubi, hampir pada waktu yang bersamaan, maka saya jadi sibuk untuk meresponnya. Maka saya buat template jawaban seperti berikut.

“Ya, email saya dibajak orang. Saya tidak di London, tetapi di Fakultas Psikologi. Itu penipuan. Tolong diabaikan dan didelete langsung. Mohon maaf jadi merepotkan”.

Setelah membaca jawaban saya, ada juga yang merespon dengan memberikan saran untuk membuat akun baru dengan sandi kombinasi. Diantaranya adalah pak Ahmadi. “Sip, semoga teman-teman Mas Bambang paham kalau itu penipuan. Mas Bambang segera bikin akun baru dengan pin kombinasi saja, biasanya kalau pin kombinasi aman”, saran pak Ahmadi yang bertugas di Rektorat UIN Jakarta.

Jawaban dari Ibu Risa cukup menghibur sekaligus memiliki sense of humor. “Ya, email saya abaikan. Kalau memang ke London bilang-bilang ya. Hehehehe”.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pembobolan tersebut bisa terjadi. Saya sendiri kurang tahu pastinya. Pak Gunawan Indrayanto memberikan analisis kemungkinan saya menjawab email yang pura-pura dari yahoo. “Bapak pernah menjawab email yang pura-pura dari yahoo ya?”.

Kemudian saya coba mengingat-ingat apa yang saya lakukan. Ya, sekitar satu minggu yang lalu, ada email masuk dari Yahoo. Mengingatkan saya untuk registrasi ulang supaya akun yahoo tidak ditutup. “Ini peringatan bagi Anda. Segera lakukan registrasi ulang akun yahoo Anda setelah menerima peringatan ini. Jika tidak, akun Anda akan ditutup”.

Menanggapi peringatan tersebut, saya langsung melakukan saran yang ditulis. Aman-aman saja. Dan seperti biasa saya masih bisa menggunakan email saya. Bahkan sampai siang hari ini, sebelum jam 15.00 saya masih membaca dan menjawab email-email yang masuk. Tapi, sore tadi email saya dibobol orang.

Lucunya, saat saya menghubungi Yahoo untuk melaporkan masalah tersebut, ada pertanyaan kunci yang harus saya jawab. Pertanyaannya adalah, “Dimana Anda bermulan madu?”. Dengan penuh percaya diri saya jawab di Malang, sebab istri saya dari sana. “Jawaban Anda tidak sesuai dengan isian di data Yahoo”, demikian komentar yang muncul.

Maka saya ganti lagi, yaitu Bandung, sebab saat itu istri kerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia). Salah lagi. Saya coba yang ketiga, yaitu Kuala Lumpur, sebab setelah menikah istri saya ajak ke sana untuk menemani kuliah. Salah lagi dan akhirnya muncul jawaban dari Yahoo, “For security reasons, your account is temporarily locked. You can try again after 12 hours”. Ya, capek dehhhhhhh.

Dari peristiwa tersebut, ada lesson learned yang bisa kita ambil. Pertama, supaya kita tetap waspada dan berhati-hati terhadap email yang masuk. Selektif terhadap tawaran yang dikirim, apalagi jika pengirimnya pihak yang tidak kita kenal.

Kedua, supaya kita memanfaatkan free email untuk kebaikan yang memberikan manfaat bagi sesama manusia. Artinya, tidak menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Karena dengan pembobolan tersebut, ada pihak yang dirugikan baik secara materi maupun non-materi. Secara materi, banyak data dan informasi yang belum sempat saya unduh, jadi hilang. Begitu juga, ketika harus merespon sms yang masuk, pulsa juga berkurang. Banyak pihak yang mungkin menghubungi saya via email, tidak dapat saya terima. Sedangkan secara non-materi, pikiran dan waktu terkuras untuk mencari solusi.

Ketiga, apa yang saya alami tersebut merupakan cobaan dari Allah yang harus saya hadapi dengan penuh sabar dan tabah. Sebab masih banyak orang lain yang diberi cobaan lebih parah dari ini. Ini masih ringan karena belum ada pihak yang jadi korban.

Namun, sekali lagi kita tetap harus waspada dan hati-hati.

Ciputat, 5 April 2012

18.15

Minggu, 04 Maret 2012

APA ITU NAK?

APA ITU NAK?

Alkisah, seorang ayah dan anaknya yang menginjak usia dewasa duduk-duduk di taman atau kebun rumah mereka. Sang anak sambil membaca sebuah buku, sementara sang ayah memperhatikan tananam di kebun tersebut.

“Buku apa itu nak?” tanya sang ayah mengawali pembicaraan di sore hari itu.

“Negeri Lima Menara”, jawab sang anak sambil meneruskan membaca.

Tiba-tiba datang seekor burung hinggap di pohon mangga.

“Apa itu nak?” tanya ayah kepada anaknya untuk kali kedua.

“Burung gereja”, jawab anaknya singkat.

Tidak lama kemudian datang seekor burung lagi dan hinggap di dahan pohon mangga.

“Apa itu nak?” tanya sang ayah untuk kali ketiga.

“Burung pipitttttttt. P.I.P.I.T”, jawab sang anak dengan nada tinggi sambil mengeja.

Sang ayah tetap tenang duduk di samping sang anak yang sedang membaca novel,

tanpa terusik sedikitpun emosinya dengan jawaban anaknya yang kurang sopan tersebut. Tiba-tiba ada sebuah mangga jatuh dan sang ayah bertanya lagi kepada anaknya.

“Apa itu nak?”

“Ayah ini sukanya ganggu aja deh. Tanya terus-menerus seperti anak kecil saja. Tahu nggak saya sedang membaca buku. Jangan diganggu. Ayah jangan duduk di sampingku”, jawab sang anak dengan kesalnya.

Mendengar jawaban anaknya dengan penuh emosi, aang ayah berdiri dan masuk ke dalam rumah, sementara sang anak masih tetap di kebun meneruskan bacaannya.

Apa gerangan yang dilakukan ayah? Buat teh atau kopi untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman yang baru dialami? Bukan.

Nonton TV? Bukan.

Membaca Koran? Bukan.

Yang dilakukan sang ayah adalah mengambil buku hariannya. Sang ayah mulai menulis pengalaman di kebun dengan sang anak. Dia ceritakan apa adanya. Persis dengan kejadian tadi. Di akhir catatannya, sang ayah menuliskan begini.

Anakku, saya bertanya terus menerus itu bukan untuk mengganggumu, tetapi untuk mengetahui sejauh mana perhatianmu kepada ayahmu.

Anakku, sudah sekian tahun ayah memberikan perhatian kepadamu, sejak lahir sampai dewasa, tetapi ternyata engkau tidak mau memberikan perhatian kepadaku hanya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan dariku.

Anakku, beginikah guru dan dosenmu mengajarimu di bangku sekolah dan universitas? Beginikah sikapmu kepada ayah kandungmu? Bagaimana sikapmu kelak kepada saudaramu dan orang-orang lain di sekitarmu?

Anakku, jika ada orang yang bertanya kepadamu, jawablah dengan penuh ketulusan. Karena jawaban yang engkau berikan itu ibarat lentera di malam hari. Ibarat lilin yang menerangi kegelapan. Ibarat petunjuk jalan bagi orang yang tersesat dalam perjalanan. Atau ibarat kompas bagi orang yang kehilangan arah. Anakku……maafkan ayahmu jika telah gagal mengajarimu kepedulian sosial.

Ya Rabb… jadikanlah anakku anak yang saleh, rajin salat, rajin ibadah, rajin belajar, taat dan hormat kepada orang tua.

Pada hari berikutnya, seperti biasa sepulang dari kuliah, sang anak memanfaatkan waktu sorenya untuk rileksasi. Ia meneruskan membaca novel Negeri Lima Menara yang telah difilmkan dan mulai 1 Maret 2012 diputar serentak di gedung-gedung bioskop di seluruh Indonesia.

Saat itulah sang ayah mendatangani sang anak dengan membaca catatan harian.

“Anakku, kau perlu membaca ini sebelum meneruskan membaca novel itu”, ungkap sang ayah seraya menyodorkan buku hariannya kepada sang anak.

Dengan tenang dan pelan sang anak membaca buku catatan harian tersebut.

Usai membaca, sang anak menatap mata ayahnya. Kemudian memeluk dengan sekuat tenaga. Sambil meneteskan air mata, sang anak berkata “Maafkan aku ayah. Maafkan aku ayah. Maafkan aku ayah”.

Dalam keadaan berpelukan, sang ayah berkata.

Katakanlah sesungguhnya segala puji dan syukur itu milik Allah. KepadaMu lah kami menyembah dan kepadaMu pula kami minta pertolongan.

Kemudian diteruskan dengan menyebut ayat suci Al-Quran:

Dan orang-orang yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang dan kesempitan, dan mereka yang menahan marahnya serta memaafkan orang lain. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang melakukan bajikan (Q.S 3:134).

Dari kisah tersebut, dapat kita pahami bahwa sikap egois sang anak telah membuatnya bersikap kasar dan tidak hormat kepada ayah kandungnya hanya karena pertanyaan yang sepele. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita saksikan, karena asyik dengan Black Berry Messanger-nya, seorang anak lupa berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Ibarat anak autis, asyik main sendiri, tapi tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Atau karena asyik bermain games dengan komputer tabletnya, ada orang yang lupa untuk menjawab salam atau menyapa orang yang lewat di depannya. Semoga Anda tidak bersikap demikian?

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa sikap marah sebaliknya ditanggapi dengan sikap dingin dan tenang. Jika marah itu ibarat api, maka sikap dingin itu ibarat air. Dengan demikian, suasana tidak menjadi lebih keruh. Seandainya kemarahan anak tersebut ditanggapi dengan kemarahan ayahnya, bisa Anda bayangkan apa yang terjadi. Nah disinilah kematangan emosi seseorang itu diperlukan. Biasanya anak muda, masing kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Karena itu hendaknya yang muda mengormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.

Ciputat, 4 Maret 2012